Pameran Pernikahan Tradisional Terbesar dan Terbaik di Indonesia, 1-3 Maret 2013 

Facebook Twitter Google Maps E-mail RSS
magnify
Home Artikel PROSESI ADAT SUNDA – SIRAMAN (NGEBAKAN)
formats

PROSESI ADAT SUNDA – SIRAMAN (NGEBAKAN)

Published on 18/08/2008

 

Ø  Ngecangkeun Aisan

Ibu mempelai wanita melepaskan gendongan dari kamar pengantin menuju tempat sungkeman, sementara sang ayah mendampingi sambil membawa pelita (lilin)

 

Mengandung arti bahwa orang tua telah melepas tanggung jawabnya terhadap sang anak untuk diserahkan kepada suaminya. Ayah membawa pelita berarti seorang ayah selalu memberi penerangan (bimbingan) pada putra-putrinya

 

Ø  Dipangkon

Calon mempelai wanita duduk sambil dipangku oleh kedua orang tuanya

 

Upacara ini menandakan bahwa kasih sayang orang tua pada anaknya tidak terbatas. Setelah selesai, mempelai wanita menghadap ayah ibunya untuk mengungkapkan isi hatinya.

 

Ø  Ngaras

Dalam upacara ini mempelai wanita mencuci kedua kaki orang tuanya. Diawali dengan mencuci kaki sang ayah. Upacara ini melambangkan bakti seorang anak kepada orang tuanya.

 

Setelah selesai mencuci kaki, lalu disemprotkan dengan minyak wangi yang mengandung arti bahwa sampai kapanpun sang anak diharapkan dapat membawa harum nama keluarga

 

Ø  Kain panjang 7 lembar

Ayah dan ibu membimbing calon mempelai wanita menuju tempat siraman setelah sebelumnya harus melewati kain panjang sebanyak tujuh lembar.

 

Tujuannya agar dalam hari-hari selanjutnya yang akan dilalui sang mempelai selalu diberikan kesabaran, kesehatan, ketawakalan, ketabahan, keteguhan iman yang kuat dan senantiasa menjalankan agama.

 

Ø  Siraman

Dilakukan terlebih dahulu oleh sang ayah dan ibu setelah mencampurkan air dengan bunga.

 

Bunga mawar berarti sang anak diharapkan selalu jujur karena kebenaran. Bunga melati berarti agar sang anak selalu disukai oleh siapa saja dan bisa membawa harum nama keluarga. Bunga kenanga berwarna hijau berarti agar sang anak selalu diberikan kesejukan dan keteduhan hati.

 

Ø  Mengucurkan air wudhu

Ayah calon mempelai wanita mengucurkan air wudhu kepada sang anak

 

Dimaksudkan agar dalam keadaan apapun, suka atau duka, sang anak tidak meninggalkan ibadah. Setelah menikah hal ini akan menjadi tanggung jawab suaminya untuk selalu mengingatkan.

 

Ø  Ngerik

Calon pengantin wanita dibawa oleh sang perias menuju kamar pengantin untuk dilakukan upacara ngerik/ngeningan

 

Yang dikerik adalah bulu-bulu halus (bawaan sejak lahir) yang ada pada wajah sang mempelai

 

Ø  Parebut Bebetian & Hahampangan

Di luar kamar pengantin dilangsungkan acara parebut bebetian (sesuatu yang ada dalam tanah seperti: kacang-kacangan, ubi, singkong atau talas) dan hahampangan (sesuatu yang ringan seperti: keripik, kerupuk atau rengginang) oleh para undangan yang hadir

 

Upacara ini dimaksudkan supaya calon pengantin lancar rejekinya, cepat mendapat keturunan dan selalu perfikir positif bila suatu hari menemui masalah dalam rumah tangganya

 

Blogged with the Flock Browser
 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
1 Comment  comments 

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − = 0

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 - Powered by satuvisipro.com